Valentine bukan Budaya kita


by. Hendra Hendardin

Valentine memang bukan tradisi budaya kita. 
Tradisi budaya orangtua kita dulu adalah sembah-hyang, berdharma-bhakti, mengaj√©ni dengan sesa-aji-an, berterimakasih kepada gunung, laut, hutan, sungai, karena hidup mereka dipersembahkan untuk berdharma, berkomunikasi transendental dengan leluhur; 
dan menghormati Sanghyang Agung sebagai dzat yang tak tersentuh, tak terimanjinasikan, tak terukur, tak terdefinisi kan, sebagai kesadaran bahwa seluruh indera kita tak memiliki kapabilitas untuk mengakses kebesarannya, way far beyond.
"LBH IWO SOPPENG, Konsultan Hukum Keluarga ANDA" Hp./WA. 085242935945
Namun hampir semua dari kita juga tak mengerjakan tradisi budaya ini. 
Tradisi budaya otentik kita ini tak dilakukan, tradisi Valentine bukan tradisi budaya kita; jadi tradisi budaya mana yang kita lakukan?

Tak ada.

Karena kita nyaris sudah tak punya budaya: gegar kultur, amnesia tradisi. Bagai pohon yang tak lagi menempel pada kultur tanam, apalagi berakar. Tanah bukan punya kita, air bukan punya kita, tradisi  tak jelas, budaya nyaris tak punya, inilah genosida jiwa dan ruh yang dampaknya lebih radikal daripada genosida raga.

Saat batang pohon tak lagi punya hubungan dengan kultur tanam (tanah dan air), maka kita semua tak lebih dari sekedar kayu bakar yang kerontang, yang mudah diikat dan dibakar.

0 Comments