Tradisi Filsafat Islam


(Pidato pengukuhan gurunda Dr KH Hamid Fahmy Zarkasyi  sebagai guru besar filsafat Islam)

Disarikan oleh Erdy Nasrul

Pertanyaan ini selalu menjadi diskusi menarik. Banyak orang meyakini asal filsafat adalah Yunani, bagaimana dengan Islam, apakah memiliki tradisi filsafat? Pertanyaan ini mirip dengan judul artikel yang dimual Portal Aljazeera belum lama ini, why are there no Muslim Philosophers? (mengapa tidak ada filsuf Muslim). Ada juga sejumlah akademisi Muslim dan non-Muslim masa kini yang menyoal hal tersebut, karena mereka banyak dipengaruhi pemikiran orientalis yang sinis terhadap peradaban Islam.
Ada beberapa pendapat tentang hal ini. Orientalis Tjitze de Boer (1866-1942) berpendapat, tidak ada tradisi filsafat dalam Islam. Filsafat adalah asli milik Yunani. “Islam datang ke dunia tidak membawa filsafat,” tulisnya dalam The History of Philosophy in Islam, sebagaimana dijelaskan Cendekiawan Muslim Hamid Fahmy Zarkasyi dalam pidato pengukuhan guru besar filsafat Islam di Universitas Darussalam Gontor pada Sabtu (12/2).
"LBH IWO SOPPENG, Konsultan Hukum Keluarga ANDA" Hp./WA. 085242935945
Dalam perjalanannya, Islam bersentuhan dengan filsafat Yunani. Kemudian menerjemahkan naskah filsafat. De Boer menyebut ini sebagai proses asimilasi. Boleh dibilang, dia adalah intelektual yang sinis terhadap Islam. Sains Islam yang berkembang pesat pada abad ke-13 disebutnya sebagai ‘Sains Yunani yang berkembang di Timur.’ Dia tak mau menyebut sains Islam.

Hal sama juga diutarakan Gustave E von Grunebaum (1909-1972) dan Madjid Fakhry. Keduanya sama-sama meyakini Islam tak memiliki tradisi filsafat. Namun apa benar demikian?
Putra kesembilan KH Imam Zarkasyi (1910-1985) itu menjelaskan hal berbeda. Islam justru memiliki tradisi filsafat. Tradisi filsafat dalam Islam adalah kerja kreatif yang lahir dari pandangan hidup Islam (worldview of Islam). Ini adalah sistem keyakinan, pemikiran, dan nilai, yang diproyeksikan oleh firman Allah melalui tafaqquh, bayan, tafsir, takwil, dan dikembangkan dalam tradisi keilmuan Islam. 
Pandangan hidup Islam dimulai dari keesaan Tuhan (syahadah), kemudian konsep-konsep dasar lainnya, seperti manusia, alam, ilmu, nilai, akhlak, keadilan, dan lainnya. Hal itu berimplikasi pada keseluruhan kegiatan kehidupan, termasuk dalam hal berfilsafat.

Tujuan berfilsafat adalah untuk mencapai kebenaran dan bertindak sesuai dengan kebenaran. Penjelasan ini didapatkannya dari Abu Ya’qub Al-Kindi (801-873) dalam buku Fil Falsafah al-Ula. 
Filsafat ini mewarnai kerja peradaban yang dicerahkan oleh kenabian dan kitab suci. “Filsafat Islam tumbuh dari wahyu dan kemudian berkembang dalam tradisi keilmuan, seperti fikih, tafsir, kalam, dan hadis,” ujar pengkaji teori kausalitas Imam al-Ghazali (1058-1111) tersebut. Tradisi keilmuan itu juga melahirkan kajian filsafat hukum Islam, metafisika dalam teologi, dan sejenisnya.
Tak sembarangan, filsafat Islam lahir dari mekanisme ilmiyah yang panjang. Ada banyak argumentasi berupa pembelaan dan pemilahan konsep yang dilakukan para ulama. 
Dalam perkembangannya, tradisi filsafat Islam mempengaruhi filsafat Yahudi, sebagaimana dijelaskan Shelomo Dov Goitein (1900-1985). Juga menjadi jembatan Barat mempelajari filsafat. Hamid menjelaskan filsuf Albertus Magnus (1193-1280) menggunakan argumentasi Abu Nasr al-Farabi (870-950) dan Ibnu Rusydi (1126-1198) tentang keberadaan Tuhan, yang kemudian dikuatkan oleh Thomas Aquinas (1225-1274).

Bagaimana dengan filsafat Barat, India, dan lainnya? Semua itu adalah hasil kerja pandangan hidup masing-masing. Yang harus ditekankan adalah, tradisi ini tidak dibatasi oleh kawasan atau ras. Sebab ini adalah kerja kreatif setiap peradaban berdasarkan pangan hidup masing-masing.
Hamid mengutip pendapat MM Sharif dalam History of Muslim Philosophy, bahwa tidak sepenuhnya Islam dipengaruhi Yunani. Tidak benar bila dikatakan Yunani menghegemoni filsafat Islam. Sekali lagi, filsafat Islam adalah buah pandangan hidup Islam; tradisi keilmuan Islam, bukan salinan dan tempelan dari filsafat Yunani. Dengan kata lain, filsuf Muslim itu ada. Ini jawaban atas judul artikel Aljazeera di atas.

Namun, kerangka kerja semacam ini tidak banyak disorot dalam studi filsafat Islam, terlebih yang dilakukan peneliti Barat. Murid Cendekiawan Muslim kelas dunia Syed Naquib al-Attas (cucu Habib al-Qutb Abdullah bin Muhsin al-Attas, Empang Bogor) itu menjelaskan, umat Islam harus punya pendirian yang kuat, optimisme, dan percaya diri untuk menampilkan tradisinya sendiri.
“Sains Islam adalah hasil kerja kreatif ulama kita yang luar biasa. Kita harus lestarikan dan sebarluaskan, agar anak cucu kita tidak asing dengan tradisi dan kearifan ulama dahulu,” ujar Rektor Universitas Darussalam (Unida) Gontor tersebut.

Dipublikasi ulang: Mappasessu



1 Comments

  1. Stainless Steel Magnets - titanium arts
    Ironing 출장마사지 the Stainless Steel titanium metal trim Magnets worrione (4-Pack). Made in Germany. The Titanium Arts Stainless Steel Magnets are an alloy https://vannienailor4166blog.blogspot.com/ made of steel in stainless filmfileeurope.com steel

    ReplyDelete