Mona Hayderi



by. ustad Ismail Amin

Mona Hayderi, perempuan muda Iran berusia 17 tahun tiba-tiba membuat gempar Iran. Pasalnya, kepalanya dipenggal Sajjad Hayderi suaminya sendiri dan diarak keliling bundaran Kasaei di Khashayar sebuah distrik kecil di Ahvaz, ibukota provinsi Khuzestan. Ada warga yang sempat memvideo Sajjad yang tersenyum menyeringai sambil membawa kepala Mona di tangan kirinya dan pisau tajam di tangan kanannya. Kejadian heboh ini baru saja terjadi, Sabtu 5 Februari kemarin. Video honor killing tersebut dengan cepat menyebar dan mendapat kecaman keras publik Iran. 

Cerita bermula dari Mona yang dinikahi Sajjad yang masih sepupunya sendiri saat masih berusia 14 tahun. Dari pernikahan itu, telah lahir seorang anak laki-laki yang saat ini berusia 3 tahun. Disebut oleh ayah Mona, awalnya pernikahan keduanya cukup bahagia dan dia juga menyebut tidak ada pemaksaan dari pernikahan itu. Hanya saja dalam satu tahun terakhir, Mona bergelagat aneh. Sampai kemudian dia benar-benar menghilang tidak diketahui rimbanya, saat izin keluar rumah pada malam hari. 

Dua bulan pencarian tidak membuahkan hasil. Sampai kemudian, Mona menelepon kepada saudaranya dan mengabarkan sedang berada di Turki. Dari situ pula medsos Mona diketahui keluarga. Dia kerap memosting poto berdua dengan seorang laki-laki, yang bukan suaminya. Postingan yang membuat Sajjad suaminya terbakar cemburu. Sampai satu hari setelah beberapa bulan, Mona minta tolong untuk dijemput kembali ke Iran. Karena laki-laki Suriah yang bersamanya telah meninggalkannya. Dia mengaku menyesal dan meminta maaf. Ayah Mona beserta ayah Sajjad (yang masih saudaraan) pun berangkat ke Turki.
"LBH IWO SOPPENG, Konsultan Hukum Keluarga ANDA" Hp./WA. 085242935945
Mona adalah korban kebengisan atas nama cinta. Ia dinikahi diusia yang masih sedemikian muda, dimana emosional dan daya pikirnya belum matang. Ia disebut berkali-kali mengaduh pada ayahnya, bahwa suaminya kerap bertindak kasar. Namun diabaikan dan diminta untuk tetap taat pada suaminya. Sampai akhirnya ia mengenal laki-laki Suriah yang tampil lebih humanis dari instagram, namanya Abd Jomung. Keduanya kerap berinteraksi secara online diam-diam. Begitu diajak melarikan diri ke Turki, dia mau saja. Satu malam dia dijemput oleh tiga laki-laki yang membawanya ke Tehran. Di Tehran mereka menginap semalam. Dua dari laki-laki itu memperkosa Mona. Mona kemudian dibawa ke Turki, yang telah ditunggu oleh Jomung. Sesuai janjinya, Jomung menikahi Mona.  

Kebahagiaan Mona tidak lama. Jomung kerap bertindak kasar. Terlebih lagi saat mengetahui Mona hamil. Ia memaksa Mona melakukan aborsi, karena tidak mengakui itu benih darinya. Sampai akhirnya ia benar-benar mencampakkan Mona. Ketika mengetahui ayah Mona sedang mencari putrinya, Jomung melalui telepon melakukan pemerasan. Dia meminta sejumlah uang, jika ingin mendapatkan Mona. Ketika ayah Mona menanyakan, mengapa begitu tega menghancurkan kehidupan putrinya, Jomung menjawab ringan, "Mona sendiri yang mau. Buktinya dia mau saja saya panggil ke Turki." Setelah ditebus, Monapun kembali kepelukan ayahnya. Ia tersenyum lebar ketika melihat ayahnya, karena yakin di pelukan ayahnya dia bisa mendapatkan cinta dan ketenangan. Dengan urusan imigrasi yang berbelit-belit karena paspor Mona tidak di tangannya, akhirnya mereka bisa kembali di Ahvaz. Masih dalam perjalanan, diberitakan Jomung telah ditangkap polisi Turki. 

Di Ahvaz, Sajjad yang telah terbakar cemburu dan telah dipanas-panasi oleh rekan-rekannya, sudah menunggu dengan sebilah pisau di tangan. Awalnya ayah Mona berusaha tidak mempertemukan Mona dengan Sajjad. Namun ayah Sajjad menjamin semuanya bisa diselesaikan baik-baik. Setelah sempat dipertemukan dengan ibunya, kendaraan yang mengangkut Mona dicegat Sajjad, dan dibantu oleh kakaknya, Sajjad memenggal kepala Mona dan dipertontonkan sambil berteriak, bahwa dia laki-laki yang masih memiliki kecemburuan dan kehormatan. Ayah Mona menyesalkan kejadian cepat itu. Ia menuntut qisas dan hukuman berat buat Sajjad. Sajjad yang telah ditangkap, mendapat ancaman hukuman mati, dan kakak yang membantunya terancam hukuman seumur hidup. 

Sebelumnya terkait Honor Killing, Ayatulah Sayid Ali Khamenei melalui Kantor Pemimpin Besar Republik Islam Iran telah mengeluarkan seruan, "Masyarakat, baik secara hukum maupun moral, harus bersikap keras terhadap mereka yang melihat pelecehan terhadap perempuan sebagai hak mereka; Hukum juga harus memberikan hukuman berat dalam hal ini."

Saya sepakat, jangan pandang remeh kekerasan dalam rumah tangga, sekecil apapun bentuknya. Sebab semua bermula dari aduan  Mona ke ayahnya yang diabaikan. 

Turut berduka cita buat Mona

Dipublikasi oleh: Mappasessu

0 Comments