Keberlimpahan Informasi


Keberlimpahan Informasi

KEBERLIMPAHAN INFORMASI DAN KEDANGKALAN BELAJAR

Saat ini kita hidup di abad informasi - abad dimana hampir semua informasi tersedia di dalam jaringan internet. Semua informasi dengan berbagai bentuknya tersedia untuk siapapun yang menginginkannya. Akses ke berbagai sumber pengetahuan, mulai dari literatur sampai dengan guru-gurunya, terbuka bagi siapapun yang membutuhkannya.

Kita tentu membayangkan, dengan segala kemudahan ini kita menjadi lebih mudah mempelajari dan mendalami disiplin ilmu apapun, kita lebih mudah mempelajari dan menguasai keahlian apapun. Ingin belajar apa? Programming secara mandiri? Cukup ketik “learn programming from zero” maka kita akan menemukan 186.000.000 hasil dalam 0,67 detik. Ingin belajar hidroponik? Cukup ketik “belajar hidroponik untuk pemula” dan kita akan menemukan 3.540 sumber belajar dalam 0,48 detik. Mau belajar internet marketing secara gratis? Cukup ketik “belajar internet marketing gratis” dan 16.800 hasil pencarian akan muncul dalam 0,42 detik. Kita dimanjakan dengan kemudahan akses berbagai informasi, bukankah ini akan memudahkan kita untuk mendalami apapun yang kita inginkan?


Sayang, nyatanya tidak demikian. Keberlimpahan informasi ternyata tidak berbanding lurus dengan kedalaman belajar. Apa yang terjadi justru sebaliknya. Internet membuat kita ‘merasa’ paham sesuatu, namun sebenarnya tidak. Internet membuat kita ‘merasa’ menguasai sesuatu, padahal masih jauh. Ini karena kemudahan yang terjadi. Ketika kita tidak tahu tentang sesuatu, kita cukup mencari informasinya di internet, saat kita mendapatkannya - membacanya sekilas - kita tiba-tiba merasa paham dan sudah menguasainya. Dengan adanya internet, kita merasa punya kendali akan pengetahuan yang kita miliki. Internet menjadi otak kedua kita untuk menyimpan informasi, dan untuk berpikir. Akibatnya, kita merasa tidak perlu menghafal atau memahami sesuatu. Kita merasa tidak perlu memikirkan atau memecahkan sesuatu. Karena kita merasa, semua jawaban sudah ada di internet, semua informasi yang kita butuhkan sudah ada di sana. Ini membuat penguasaan kita menjadi dangkal. Kita berhenti di level tahu, tidak berusaha masuk ke level memahami, apalagi level mengaplikasikan
menganalisis
mengevaluasi, dan 
mensintesisnya menjadi sebuah pengetahuan baru. 
Pada akhirnya, kita tahu banyak hal, namun kita tidak menguasai apapun.

Keberlimpahan informasi juga membuat kita kewalahan serta kebingungan. More information, more confusion. Kita kewalahan dengan jumlah. Kita bingung memilah, mana berlian dan mana sampah. Dari sekian ribu hasil pencarian, mana yang perlu saya pilih? Dari sekian juta informasi, mana yang benar-benar berkualitas? Mana yang ditulis oleh ahli, mana yang hanya diproduksi oleh amatir? Mana yang ditulis dengan sepenuh hati mana yang hanya mementingkan klik dan posisi di mesin pencari? Kita tidak bisa memutuskan sebelum membuka laman tersebut. Bila beruntung, kita akan menemukan berlian. Bila tidak, maka bersiap menerima sampah ke dalam pikiran kita.

Berlimpahnya informasi di sekitar kita juga membuat rentang perhatian kita semakin pendek. Kemampuan kita untuk fokus semakin pendek dari waktu ke waktu. Kita menjadi mudah terdistraksi. Saat membuka lama, distraksi ada dimana-mana, pop up yang muncul tiba-tiba, tautan yang menjanjikan informasi menarik, papan iklan yang gemerlap dan berwarna-warni. Semua menggoda kita untuk segera berpindah dari satu tab ke tab lainnya. Kita pun akhirnya hanya membaca secara dangkal informasi yang kita dapatkan, tanpa sempat (dan berusaha) memahaminya. Benar apa yang dikatakan oleh Herbert Simon: “wealth of information creates a poverty of attention.”

Lalu solusinya bagaimana? Izinkan saya merenung dulu untuk merangkai solusinya.
.

0 Comments