Islam Bukanlah Agama Islam


Opini - Islam Bukanlah Agama Islam

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Arab - Latin: 
Yā ayyuhallażīna āmanudkhulụ fis-silmi kāffataw wa lā tattabi'ụ khuṭuwātisy-syaiṭān, innahụ lakum 'aduwwum mubīn 

Terjemah Arti: 
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.

Saya pernah kuliah mengambil jurusan Bahasa dan Sastra Inggris. Dan pada mata kuliah Grammar saya belajar yang namanya 'Derrivatives' atau dalam Bahasa Indonesia disebut Derivasi. 

Contoh Derivasi dalam Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia adalah: Strong = kuat (kata sifat) ---- Strength = kekuatan (kata benda) ---- Strengthen = menguatkan (kata kerja) ---- Strongly = dengan/secara kuat (kata keterangan) 

Kalau kita lihat perbandingan antara satu jenis kata dengan kata yang lain dalam satu kata yang bisa diderivasi, bentuk katanya mirip. Strong dengan strength. Kuat dengan kekuatan. Dan sebagainya.

Walaupun saya tidak belajar Bahasa Arab, saya meyakini bahwa Derivasi ini ada di semua bahasa. Seperti kata 'issilmi' dalam ayat ini yang diartikan sebagai agama Islam, saya mencoba membandingkan derivasi kata ini di tempat lain dalam Quran. 

Kata 'silmi' memamg mirip bentuknya dengan kata 'islam' yang terdiri dari huruf 'sin', 'lam', dan 'mim'... Sama seperti kata 'salam', 'muslim' dan 'taslim'... 

Kalau kata 'salam' diterjemahkan sebagai damai atau selamat...kemudian kata 'muslim' diterjemahkan 'yang berserah diri', maka akan make sense... Karena untuk bisa damai, fihak-fihak yang bertikai mesti 'menyerah' salah satu atau dua-duanya... Kalau masih ada perlawanan, maka tidak akan ada penyerahan dan kedamaian dan keselamatan.

Saya meyakini kata-kata ini awalnya adalah menjelaskan keadaan atau state. Lantas bagaimana kemudian kata 'Muslim' diterjemahkan menjadi 'Orang Islam' dan kata 'Islam' diterjemahkan menjadi 'agama Islam'? Saya meyakini ini sudah merupakan penyimpangan makna yang dimulai pada masa Khalifah Abdul Malik yang mulai merumuskan suatu konsep yang kelak bertransformasi menjadi sebuah entitas teologis yang bernama Agama Islam.


Sampai Akhir abad 10, sebagaimana yang disampaikan sejarawan Jay Smith, tidak ada komunitas mana pun yang disebut sebagai 'Muslim' atau 'kelompok orang yang beragama Islam' di wilayah Timur Tengah yang diklaim merupakan asal muasal agama Islam. Artinya, kata Islam, Muslim dan sebagainya pada masa Nabi Muhammad, tidaklah merujuk pada suatu kelompok teologis, tapi merujuk pada orang yang berada dalam satu keadaan.. Orang yang berserah diri, orang yang menyebarkan perdamaian... Dan sebagainya.. Jadi bukan 'orang beragama Islam'.. Jelas  tafsir macam itu adalah sesat!

Jadi makna yang benar dari ayat di atas bukanlah 'masuklah kamu ke dalam Islam secara total
TAPI 
'berserah dirilah secara total', 'pasrah lah secara total', 'damailah secara total', 'selamat sepenuhnya'.
Dan terminologi-terminologi seperti pasrah, damai, dan selamat sudah merupakan terminologi spiritual yang sudah dikenal luas di wilayah tempat Nabi tumbuh dan mendakwahkan risalah-Nya.

Ini membuktikan bahwa perjuangan Nabi Muhammad SAW adalah gerakan menanamkan semangat dan nilai-nilai spiritualitas kedalam tatanan masyarakat yang telah lama tercerabut dari semangat dan nilai-nilai seperti itu.. 

Jadi, Islam adalah tentang berdamai dengan diri dan pasrah total dalam mengikuti tuntunan agung dari sumber kedamaian dan keselamatan sejati di dalam diri. 
Islam BUKANLAH 'agama Islam'

(Gambar diambil dari Facebook Haramain)


اَ تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا، وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوْهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ

“Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan tidak akan sempurna iman kalian hingga kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan kalian pada sesuatu yang jika kalian lakukan kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim no. 54)

Kata 'ifsyus salaam' atau 'menyebarkan Salam' dalam hadist di atas yang arti sesungguhnya adalah 'menyebarkan perdamaian dan rasa damai' ini, saya sering baca di berbagai buku dan sumber agama Islam, sangat sering dipelintir artinya menjadi 'Mengucapkan salam' yang redaksinya adalah 'Assalamualaikum warahmatullaahi Wabarokatuh'.

Dan lebih jauh bahkan dibuat narasi palsu yang sangat menyesatkan bahwa 'mengucap salam' ini hukumnya sunnah ke sesama Muslim dan menjawab salam dari seorang Muslim hukumnya adalah wajib.

 Bahkan lebih jauh lagi narasinya adalah bahwa salam dari Non-Muslim tidak harus dijawab lengkap, cukup dibalas dengan kata 'wa'alaikum'.. Yang artinya kamu juga. Intinya, dilarang membalas doa akan 'rahmat dan barokah dari Allah' dari seorang Non-Muslim. Karena sudah berangkat dari dogma sesat bahwa yang berhak mendapat rahmat dan berkah hanya Muslim saja dan bukan Non-Muslim.. 

Anda bisa membayangkan bagaimana Nabi Muhammad ngurusin soal 'ngomong Assalamualaikum' ke orang Muslim dan melarang menjawab ucapan 'Assalamualaikum' dari Non-Muslim. Pertanyaannya, dulu pada jaman Nabi, yang Muslim yang mana, yang Non-Muslim yang mana? Apa iya yang Non-Muslim jaman Nabi usil nggodain Muslim dengan ngomong 'Assalamualaikum ke orang Muslim? Lagi pula 'Assalamualaikum' itu adalah bahasa Arab, bahkan berasal dari bahasa Ibrani, yakni 'Solom eleichem'. Itu salam yang mereka ucapkan ke sesama mereka gak peduli apa pun agama mereka.

Padahal redaksi asli hadistnya tidak ada kata Muslim dan Non-Muslim dalam kaitannya dengan perintah 'ifsyus salaam' atau 'menyebarkan salaam'.

Jadi receh banget ajaran Nabi ketika dinarasikan oleh para penipu berkedok ulama. 
Namun narasi menggelikan dan sesat inilah yang saya ingat diajarkan kepada saya pada saat pelajaran agama saat saya sekolah dulu.. 

Dan narasi sesat yang ditanamkan selama bertahun-tahun di dalam pendidikan kita ini telah memasuki masa panen di mana kita lihat radikalisme dengan mengatasnamakan Islam saat ini di mana-mana.
Dan, sadly and unfortunately, narasi sesat ini masih disebarkan kepada anak-anak kita, generasi yang lebih muda dari kita, sampai sekarang.. 

Semangat 'menyebarkan salam', 'menyebarkan perdamaian', 'menyebarkan rasa damai' yang merupakan ajaran asli Nabi Muhammad, diselewengkan menjadi ajaran yang menyebarkan teror di mana-mana, hanya gara-gara para 'ulama palkon aljuancuki' ini dengan keji dan sengaja mengubah makna dari kata 'ifsyus salaam'.


Diedit oleh Mappasessu

0 Comments