Eskalator Kehidupan



Eskalator Kehidupan
Edisi Spiritual Marketing  (Joe Vitale)

Pagi ini saya belajar dari salah satu pemenang kehidupan dalam buku Inside the Mind of Winners, beliau bernama Joe Vitale (Mr. Fire)

Dia mengatakan tentang escalator kehidupan, mungkin ini dikupas dalam buku terbarunya, Spiritual Marketing. Saya belum memilikinya, mungkin nanti saya beli karena ini menarik dan ada hubungannya dengan tehnik Ho’oponopono.

Didalam buku Inside the Mind of Winners ini Charles Burke dan CML mewawancari Joe Vitale. 

Inti dari isi wawancara ini adalah perjalanan Joe Vitale yang berawal dari tunawisma dengan mobil rongsoknya, dan berakhir menjadi master copywriter, ahli pemasaran, penulis buku, pembuat rekaman pelatihan dan menjadi terkenal diseluruh dunia.

Satu yang menarik dari isi wawancara ini adalah dua kata yang sering dia sebut, yaitu “eskalator kehidupan”

Eskalator kehidupan yang saya tangkap dari wawancara ini adalah “berserah atau tawakal” (Trusting in God’s Plan). Mengapa ini menarik bagi saya? Saya akan ceritakan pengalaman saya untuk anda.

Beberapa kali dalam hidup, saya terjebak dengan tehnik dari buku-buku motivasi dan seminar-seminar yang membuat saya merasa sangat tertekan ketika menjalankannya, saya dalam kondisi struggle full mode on 😅 

Setiap kali saya menginginkan sesuatu, mengacu pada tehnik yang saya pelajari saya selalu melakukan sets goal; menentukan apa yang saya inginkan, mencari gambarnya dan menempelkannya, serta menulis kapan itu harus terwujud dan mulai melangkah searah dengan itu dengan mencari orang-orang yang sudah sampai dimana saya ingin menuju, belajar dari mereka atau bekerjasama, belajar juga ilmu-ilmu tambahan yang saya harus kuasai segera, menulis siapa saja yang bisa membantu saya sampai pada apa yang saya inginkan dan bekerja keras sekaligus cerdas terus-terus…terus…terus…terus…terus dan terus sambil melihat catatan kapan deadline saya, itu yang saya lakukan. It was so tiring,…. seringkali saya lantas terjerumus dalam ketegangan dan stress berlebih ketika melakukannya.

Hal diatas sebetulnya tidak salah, “itu memang bagian manusia” yang harus kita kerjakan sebagai manusia. “Hanya” itu yang kita bisa lakukan.

Dan jangan salah, sebetulnya tehnik itu bekerja dengan baik. Beberapa kali saya menentukan goal yang hampir tidak mungkin bagi kondisi saya dan gilanya itu hampir selalu terwujud 🤩

Pernah saya pengen punya mobil tapi saya tidak mau beli, harus dari hadiah. Dalam perjalanan sebetulnya saya 3x mendapatkannya kalau saya flexible. Saya menolak yang 2 karena masalah komitmen dan yang kedua karena teman.

Yang pertama saya dapat tantangan dari perusahaan untuk achieve omzet tertentu dalam 3 bulan dan ternyata tembus melebihi itu, sayang perusahaannya tidak tepat janji, janji mobil X mau dikasih G.

Saat itu saya tolak, bukan karena saya sudah punya, saat itu saya tidak punya mobil, tetapi karena masalah komitment. Saya tidak mau membantu perusahaan yang model seperti itu, yang tidak tepat janji.

Yang kedua saya tolak karena jika saya mau deal, teman saya yang kehilangan mobil. Saya memilih mengatakan “hati-hati jangan lakukan kepada orang lain deal seperti ini, saya kuatir kamu akan celaka”. Sebetulnya saya bisa melakukannya kalau mau, hanya butuh waktu 3 minggu untuk dapat reward itu dari perusahaan yang dia tawarkan dengan modal tertentu yang saya kebetulan ada saat itu. Tapi saya analisa perusahaan ini akan ingkar. Ternyata benar setahun kemudian dia telepon saya dan berterimakasih karena saran saya dan karena saya menolak garansi dari dia pada saat itu. Katanya “ratusan unit mobil tidak diberikan oleh perusahaan bagi yang meraih challenge itu”. When i heard that i was very sad 😢

Yang ketiga ini beda, saya cash dulu dan setelah 3 bulan, uang pembayaran itu kembali kesaya karena ada deal bisnis dengan kawan baru yang lain, bukan pemilik mobil sebelumnya. Pada waktu saya beli mobil BMW 318i itu, dalam hati saya mengatakan. Ini akan diganti entah dari mana 3 bulan lagi. Mobil ini yang akan menjadi jalannya. Dan akhirnya whooalaaaaaa tepat sekali saya ada projek dengan kawan baru ini dan fee untuk saya dalam 3 bulan bisa mengembalikan uang pembelian mobil tersebut.

Pernah juga saya dalam posisi minus berani mentarget uang sebanyak 1M dalam 12 bulan pada waktu itu, sampai sih sebetulnya malah hanya dalam waktu 6 bulan, tetapi hilang lagi setelahnya, panjang ceritanya 😭

Setelah saya evaluasi, kesalahannya bukan pada proses dan langkah untuk meraih goal tersebut, tetapi emosi yang salah yang masih melekat pada diri saya. Setelah saya ubah sedikit emosinya, semua perjalanan menjadi sangat indah dan penuh warna 😊 Ini yang saya bilang emosi titik 0 (kemelekatan dengan energy TUHAN) atau yang disebut dengan escalator kehidupan oleh Joe Vitale.

Baiklah, mari kita bahas tentang escalator kehidupan. Saya mau bahas ini karena saya ternyata juga menggunakannya walau dengan istilah lain.

Escalator kehidupan dalam definisi saya adalah titik dimana kita merasa bukan siapa-siapa, tidak memiliki apa-apa, tidak cukup pandai untuk apa saja dan banyak celah walau sangat hati-hati dalam melangkah dengan segala ilmu yang kita miliki, lalu memilih untuk menyerahkan semua kehidupan kita kepada jalan TUHAN atau semesta untuk mewujudkan segala ingin kita dengan sangat BAHAGIA dan CERIA 😉 kemudian melanjutkan hidup, menikmati hari penuh gairah, mengoptimalkan apa yang kita bisa kerjakan hari ini dan tidak membawa fikiran kita ditempat yang ingin kita tuju dikehidupan mendatang.

Coba saya tanyakan apakah anda menikmati setiap moment hari ini dan bahagia didalamnya? Coba renungkan sejenak…. 
Jangan seperti saya pada waktu itu 😬✌️

Ternyata bahagia oleh penelitian Barry, memberi peluang kepada lebih banyak orang untuk mendapatkan apa yang mereka mau. Dibanding kemarahan, ambisi dan keserakahan apalagi rasa ingin diakui. (Mungkin kapan ada kesempatan saya akan bagi apa itu rasa ingin diakui and why is it so destructive!)

Itu mengapa sering ada quotes “DO WHAT YOU LOVE” OR “LOVE WHAT YOU DO” saya tambah sedikit “pada saat ini”. 

Saya ulang lagi terkait artikel saya sebelumnya, technic Ho’oponopono bisa membawa kita ke titik bahagia atau titik 0. Bagi saya technic ini adalah bagian dari “kesadaran”.

Beberapa pertanyaan dibawah ini akan membantu kita, apakah kita menaiki escalator kehidupan atau tidak?

Apakah kita merasa kita berada di masa depan dan kehilangan hari ini?
Apakah kita seolah melaju kencang diatas bebatuan dan struggle untuk sesuatu yang kita inginkan (bukan butuhkan) atau seolah berusaha menangkap semua peluru mematikan yang tertuju kepada kita?
Apakah kita berasa seperti mendaki tebing yang sangat terjal?
Apakah kita merasa bingung dengan apa yang kita cari?
Apakah kita merasa stress belajar hal baru atau menikmatinya?
Apakah gambar, tulisan goal kita membuat hal-hal yang lebih mahal dari itu terabaikan?

Jika jawabannya mengandung emosi dan dampak negative lebih banyak silakan stop, stop dan segera gunakan eskalator kehidupan. Dengan menggunakannya apapun hasilnya anda akan bahagia, cepat atau lambat itu bukan menjadi soal, It's God's time, not yours! 

“Karena jika anda hidup pada hari ini, itu adalah waktu yang yang sangat banyak untuk seluruh kehidup anda”

Bukankah banyak orang yang merasa kehilangan dirinya setelah sampai di ujung karir atau hidupnya? Dan merasa tidak hidup dalam perjalanannya? Jangan jadi bagian dari orang-orang tersebut!

0 Comments