Baliho


BALIHO

Baliho adalah sebuah ringkasan.  Melihat di pelbagai kota wajah-wajah para politisi dipasang di sepanjang jalan dalam pigura persegi panjang berukuran besar, kita bisa membaca banyak hal pada masing-masing potret itu:  

(1) Hasrat agar dikenal. 
(2) Hasrat diingat. 
(3) Ambisi.  
(3) Narsisme.  
(4) Sedikit kebohongan —yang dianggap wajar seperti iklan. 
(5) Apa yang dalam bahasa Inggris disebut “mediocrity.”

Semua itu termaktub — diringkas — dalam satu bidang. Wajah-wajah itu disajikan dengan sedikit sekali variasi, mirip  sejumlah serabi dalam tampah.  Yang pria berpeci, yang perempaun berjilbab atau berkebaya bagus.  Ekspresi dan senyumnya (kalau ada) terbatas.   Tatapan ke depan kosong seperti foto KTP.  Tak tampak sifat unik tiap pribadi. Meskipun para politisi itu memperlakukan jalan raya  seperti “fan-page” mereka di Facebook, mereka tak mau terang-terangan pamer tetek bengek pribadi. Mereka hanya tampak menyukai wajah mereka sendiri.

Di baliho itu, mereka manusia rata-rata. Di sini “mediocrity” berarti sifat “sedang-sedang-saja” — yang justru mudah ditawarkan.  Sebuah paradoks dalam demokrasi kita: di deretan baliho itu  persaingan dalam pemilihan tak ditandai jor-joran untuk menonjol. Saya belum pernah melihat sebuah baliho dengan gambar tokoh yang mengenakan mahkota emas dengan dada telanjang,  atau memakai topi hitam bajak laut, atau berjilbab dengan alis dicat merah dan gincu ungu di bibir.  Yang dihadirkan adalah serabi demi serabi datar yang tak kita bisa tebak seberapa manis, seberapa gurih, seberapa renyah.  Wajah-wajah itu memproyeksikan stabilitas. Latarnya  netral menyarakan suasana  tenang yang mudah dihadapi.

Tentu saja semua itu  semu. Sebab  wajah-wajah di baliho itu sebenarnya sederet siluman dari hasrat untuk diakui dan ambisi berkuasa — versi yang lunak dari raut muka raja   yang sedang hendak merebut wilayah. Tak ada yang akan melihat wajah di baliho itu seperti pemuda kasmaran yang melihat di wajah kekasih sebutir bulan yang “menerangi hati gelap rawan”.  Bahkan sembari orang duduk di kursi bis atau taksi, apalagi di atas sadel sepeda motor, tak banyak  yang tergerak  menatap baliho di tepi jalan itu. 

Tapi wajah-wajah di baliho itu seperti berkulit penyu. Mereka tak peduli.  Yang penting bagi mereka: sebagian dari diri mereka kelihatan ada,  tak ketinggalan dari yang lain. Ini bagian dari ritual politik yang diharapkan akan melahirkan elite baru atau meneguhkan elite lama — dengan catatan,  pengertian “elite” di sini terkait dengan status tanpa kualitas. Sebab setelah deretan baliho yang itu-itu juga, hasil pemilihan hanyalah  sejumlah politisi di parlemen yang  pikiran dan ucapannya itu-itu juga.  Mereka hanya buntut oligarki. Mereka dikuasai  juragan partai. 

Agak berbeda dengan itu adalah baliho untuk pemilihan presiden, yang di tengah-tengah wabah dengan tingkat kematian yang tinggi ini tetap dipasang seperti merayakan kehidupan baru. Tapi di sinipun, baliho adalah ringkasan. Hanya bedanya, kali ini wajah agak lebih menarik, bisa dibedakan satu dari yang lain. Mungkin karena penampilnya sedikit. Mungkin juga karena hari-hari ini  belum jadi hari-hari kompetisi yang resmi, dan sebuah baliho dengan wajah tokoh A atau Z bisa   jadi selingan di deretan tiang listrik dan pohon-pohon.

Tapi di sinipun, wajah telah direduksi. Ia dibekukan dan dikuras kering dari kemungkinan yang tak disangka-sangka.  Sang calon, agar bisa dipilih orang banyak, harus tampil sebagai wujud yang bisa diduga. Ia diringkus untuk tak menjadi Yang-Beda. Ia produk pembakuan.  

Dengan kata lain, politik bergerak dengan  Yang-Sama. Baliho diproduksi  untuk menekankan hal ini.  Bingkainya bukan saja untuk memudahkan ia dipasang, tapi juga untuk menjaga agar ia tak melintasi batas, atau identitas, yang dirancang.  Yang Sama adalah yang jinak.

Mungkin itu sebabnya wajah dalam baliho gampang  dijadikan alat kampanye — dengan kata lain: alat pemasaran — karena ia mudah diulang-ulang.  Mudah diulang-ulang berarti mudah dikenali kembali, sebagaimana slogan-slogan.  Politik adalah mesin familiaritas.  Para operator mengoptimalkan apa yang sudah atau gampang dikenal untuk hasil yang diperhitungkan.

Mungkin  nanti, jika pandemi membuat jalan sepi, baliho akan kehilangan dayanya. Di luar pandemi ia ada, ia berdaya, karena dilihat orang ramai. Mungkin kelak, ketika selain “bekerja-dari-rumah” akan ada “memilih-dari-rumah”,  baliho adalah benda mubazir.  

Tapi bisa jadi akan menetap sifatnya yang khas:   menawarkan  wajah yang tak bersuara.. Di dalam persegi empat itu, tokoh politik meneruskan kebiasaan untuk tak menjawab. Wajah dilukis besar dan bagus, tapi baliho tak menandai satu program kerja apapun.  Tak juga tampak ideologi yang bisa mengajak berpikir — yang merupakan ciri politik sekarang, ketika tokoh lebih penting ketimbang gagasan dan baliho berperan.

Baliho tetap sebuah ringkasan.

Goenawan Mohamad

0 Comments