Varian Delta dan Ketidakmampuan Membaui Kehidupan

lbh-iwo-soppeng.com Opini -- Varian Delta dan Ketidakmampuan Membaui Kehidupan

by. Saeful Ihsan

Saya teringat akan esai om Sulak (A.S. Laksana) sewaktu menanggapi Goenawan Mohamad, esai yang menjadi sumber polemik sains tahun lalu itu. Bahwa kepercayaan tergantung dari informasi yang diterima. Kita percaya pada agama yang kita anut, sebab informasi yang terus dihembuskan oleh orang tua kita, tentang agama itu. Atau bisa jadi, ketika dewasa, kita mendapati informasi yang bagi kita lebih benar mengenai agama lain, sehingga kita berpindah ke sana.

Pun demikian dengan virus korona, percaya atau tidak tergantung pada informasi mana yang anda yakini. Jika anda sepikiran dengan dr. Tirta dan semisalnya, tentu anda tidak akan meremehkan protokol kesehatan yang ada. Namun jika anda sependapat dengan dr. Lois Owien, anda tidak akan percaya dengan Covid-19; tingginya angka kematian disebabkan prosedur penyajian obat yang keliru.

Yang terakhir ini menarik. Tiba-tiba saja muncul seorang dokter yang dengan berani mengumumkan dirinya tidak percaya dengan Covid-19, di salah satu acara reality show. Kemunculan dan kesanterannya seiring dengan Covid-19 jenis baru yang disebut dengan Varian Delta. 

Ya, Varian Delta itu lebih ganas, pasien kian bertambah tidak hanya membuat rumah sakit tak cukup menampung, tetapi juga membuat tabung oksigen menjadi langka. Gara-gara Varian Delta, negara berencana mengimpor oksigen; BUMN beramai-ramai menyumbang oksigen; serta yang mengerikan, penimbunan tabung oksigen oleh para mafia dan pedagang nakal.

Jika dr. Lois tidak percaya dengan Covid-19, lalu mengapa ada gejala massal seperti itu? Jawabannya cukup meyakinkan, pasien mengalami kesulitan bernafas akibat efek dari penggabunganbeberapa obat jenis tertentu, dalam dosis tertentu, serta dalam frekuensi tertentu. Jadi kesimpulannya, sesungguhnya pasien-pasien mati bukan karena Covid-19, melainkan karena prosedur pemberian obat. Argumen itu diperkuat dengan asumsi bahwa kebanyakan pasien positif dengan gejala meninggal di rumah sakit.

Lagian ada beberapa hal yang tak masuk akal. Terutama masalah tes. Menurut dr. Lois, dalam ilmu kedokteran tak ada namanya alat tes sebagai diagnosa utama. Harusnya anamnesa (pasien didiagnosa berdasarkan keluhannya) sebagai prosedur utama. Yang ada, demikian dr. Lois, orang sehat (OTG) dikejar-kejar dengan alat tes, padahal tak punya keluhan apa-apa. Jika tes menunjukkan positif namun tak punya gejala apa-apa lantas divonis sakit, ini jelas menyalahi ilmu kedokteran. Sedang pasien sakit di rumah sakit harus menunggu apa kata hasil tes.

"Otaknya di mana?" itu kalimat sarkastik yang berulangkali ia ucapkan. Kalimat yang membuat dr. Tirta murka dan mengancam bakal melaporkannya kepada yang berwajib, serta terpaksa membeberkan bahwa dr. Lois tidak termasuk dalam tim atau apapun yang menangani pasien Covid-19. Lagipula status dokternya dipertanyakan sebab tak terdaftar sebagai anggota IDI (Ikatan Dokter Indonesia), katanya.

Dua seteru tajam ini bisa menambah ketajaman perbedaan kepercayaan akan adanya Covid-19. Bisa jadi yang percaya berubah menjadi tidak percaya.

***

Gejala umum Covid-19 salah satunya adalah ketidakmampuan membaui apapun, bahkan yang punya aroma setajam minyak kayu putih tak dapat dicium. Pada pasien yang terjangkiti Varian Delta, oksigen menjadi sangat penting. 

Sayangnya, kita rupanya tak menyadari bahwa kegagalan membau bukan hanya terhadap aroma benda-benda, dan yang lemah bukan hanya indra penciuman (dengan segala sistemnya), tetapi juga bau kehidupan di sekitar kita mulai tak tercium; bau kebenaran yang sifatnya ilmiah; bau masa depan pendidikan kita; bau keterarahan kita untuk ikut suara kerumunan, dan sebagainya.

Seteru tajam dr. Tirta dan dr. Lois, sekaligus mewakili kepercayaan akan adanya Covid-19 dan kepercayaan akan tidak adanya. Kita gagal membaui mana di antara keduanya yang harusnya kita percayai. Ukurannya bukan pada memilih percaya atau tidak, melainkan pada pilihan itu didasarkan pada kemampuan berpikir mandiri, ataukah didasarkan pada ketakutan? Kita percaya pada dr. Tirta karena takut terjangkit Covid-19. Kita percaya pada dr. Lois karena takut menjadi korban mal-praktik tenaga medis, atau bahkan korban penipuan konspirasi global.

Selain itu, kita juga mulai tak mampu mencium bahaya masa depan anak-anak kita yang sudah setahun lebih belum kunjung masuk sekolah. Kemarin saya menyaksikan salah satu video wawancara kepada beberapa anak tentang pertanyaan sederhana, semuanya mengenai pelajaran di sekolah. Menyedihkannya, bahkan Pancasila tak berhasil disebutkan sila-silanya dengan benar.

Terkait pendidikan, sebelum korona menutup indra penciuman kita terhadap benda, korona telah terlebih dahulu menutup pembauan otak kita pada kemungkinan buruk ditutupnya sekolah sementara waktu. Kita tak mempersiapkan skenario terburuk berupa home schooling dengan kurikulum sederhana dan luwes.

Iklim malas belajar tercipta (sayangnya tak ada survei tentang ini). Minat dan daya baca sebaiknya jangan diukur dari seberapa seringnya seseorang membuka artikel di gawai, tetapi mesti memegang buku. Di gawai pun mestinya buku el. Jika setahun lebih belakangan ini anak-anak kita dimanjakan oleh kondisi seperti ini, di masa mendatang apakah mereka masih mau sedikit repot untuk menggunakan akalnya?

Jangan salah, media sosial turut membentuk kebiasaan kita yang selalu ikut suara kerumunan. Kita tak mempu membaui informasi yang benar atau keliru. Terlebih anak-anak kita. Di antaranya mungkin ada yang tampil kritis seolah mampu memberi pandangan, tetapi sekali lagi bukan hasil dari berpikir mandiri, melainkan diarahkan oleh suara-suara sumbang yang ia ikuti terus-menerus di medsos, sesuai seleranya.

***

Sampai kapan kita akan terus gagal membaui kehidupan? Sedang Covid-19 belum menunjukkan tanda-tanda kapan berakhir. Kemungkinan setahun atau dua tahun lagi kita akan terus-terusan tak dapat mencium bau, apa yang akan terjadi selanjutnya? Anak-anak kita akan memperpanjang masa malas belajarnya. Orang tua menambah masa abainya terhadap pendidikan anak di rumah. Terkecuali ada segelintir yang tetap mendidik anak di rumah.

Bukan hanya soal akhlak, terlebih mata pelajaran yang diterima di sekolah belum tentu orangtua dapat memberikannya di rumah. Kuadrat a, sinus dan cosinus, fisika mekanika, kurva statistik, sejarah kebudayaan islam, analisis citra geografi, kalkulus, pembagian harta warisan, teori-teori sosiologi, akankah kesemuanya itu tetap akan diperoleh di rumah? 

Kelak, ketika anak menjadi orang dewasa seperti kita, masihkah mereka akan hapal Pancasila dengan fasih? Tak usah dulu berpikir mengapa ada kelangkaan tabung gas oksigen bagi pasien pengidap Varian Delta, ataukah penyebab kelangkaan tabung gas elpiji setiap menjelang puasa dan lebaran, analisa yang lebih kecil dari itu, apakah mereka masih bisa membaui?

Dan bagi kita, apakah kita masih belum bisa membaui langkah terbaik yang perlu kita persiapkan, supaya kondisi tidak semakin memburuk?
______________
Sumber foto: pojoksatu.id

0 Comments