Nabi Ibrahim diuji Mengorbankan Manusia


NABI IBRAHIM
DIUJI MENGORBANKAN MANUSIA
Oleh: Agus Mustofa*

Jamaah haji masih berada di tanah suci. Seusai wukuf, lempar jumrah, tawaf dan sa’i. 

Di hari-hari tasyrik, umat Islam melanjutkan dengan ibadah kurban. Yakni, menyembelih binatang ternak. Yang dagingnya dibagi-bagikan kepada masyarakat yang kurang berpunya. Dan Sebagian lainnya dinikmati sebagai rasa syukur kepada-Nya.

Sejumlah kawan bertanya. Di grup WA, YouTube, maupun media lainnya.

“Kenapa nabi Ibrahim diuji mengorbankan manusia? Anaknya pula.”

“Dan siapakah anak yang dikorbankan itu? Ishaq ataukah Ismail?

Jika kita telisik sejarah, sesungguhnya ritual korban manusia itu dilakukan oleh orang-orang yang beragama pagan. Para penyembah dewa-dewi. Yang justru dilawan oleh Nabi Ibrahim. Saat itu.

Ada yang melakukan ritual itu dengan cara dibakar. Ditusuk dadanya. Diumpankan ke binatang buas. Dan berbagai macam cara sadistis lainnya. Melalui upacara-upacara keagamaan mereka.

Ritual semacam itu terjadi hampir di seluruh dunia. Di suku-suku bangsa Afrika, seperti ritual Tophet Salammbó. Atau, ritual Argei di Romawi kuno. Xunzang dan Renji di Cina. Hitobashira di Jepang. Sejumlah ritual di suku Aztec, Inka, Maya, di Amerika. Dan lain sebagainya.

Termasuk, di suku-suku bangsa Mesopotamia. Di mana nabi Ibrahim dilahirkan dan dibesarkan. Mereka menyembah patung-patung berhala. Dan memiliki ritual-ritual tertentu, mengorbankan manusia kepada para dewa-dewi sesembahannya.

Baru-baru ini, sejumlah ilmuwan Arkeologi menemukan kuburan yang berisi jenazah manusia yang dikorbankan itu. Baik yang masih anak-anak. Maupun yang dewasa. 

Bersama dengan jenazah-jenazah itu ditemukan berbagai benda yang biasa digunakan dalam ritual pengorbanan di zaman itu. Di sekitar tahun 2000 – 3000 SM. Di zaman Ibrahim hidup di kota Ur, Mesopotamia.

Maka, hukum bakar terhadap Ibrahim saat ia melakukan perlawanan terhadap masyarakat pagan waktu itupun, tak lepas dari tradisi mereka untuk melakukan persembahan semacam itu.

"Mereka berkata: Bakarlah dia (Ibrahim). Dan bantulah tuhan-tuhanmu. Jika kamu benar-benar hendak bertindak". [QS. Al Anbiya’: 68]

Yang demikian itu, bukan hanya di zaman Ibrahim. Tetapi juga di zaman Bani Israil. Yang digambarkan oleh ayat berikut ini.

"(Yaitu) orang-orang yang mengatakan: Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada kami, supaya kami jangan beriman kepada seseorang rasul, sebelum dia mendatangkan kepada kami korban yang dimakan api (dibakar). Katakanlah: Sesungguhnya telah datang kepada kamu beberapa orang rasul sebelumku membawa keterangan-keterangan yang nyata dan membawa apa yang kamu sebutkan, maka mengapa kamu membunuh mereka jika kamu adalah orang-orang yang benar." [QS. Ali Imran: 183]

Dan, jika kita lihat dari sumber Al Kitab Nasranipun ternyata sama. Digambarkan, Ishaq akan dikorbankan dengan cara dibakar.

"Allah memerintahkan, Ambillah anakmu yang tunggal itu. Yang engkau kasihi, yakni Ishak. Pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran". [Kitab Kejadian pasal 22: ayat 2]



Jadi, dalam catatan sejarah maupun kitab suci agama-agama Ibrahim diperoleh informasi yang sama. Bahwa, di zaman dulu terjadi praktik korban manusia.

Namun, nabi Ibrahim dan nabi-nabi keturunannya menentang ritual semacam itu. Sebagaimana, diberitakan di dalam QS. Ali Imran: 183 di atas. Tetapi, para nabi dan rasul itu malah mereka bunuh.

Sesunguhnya, agama Ibrahim mencontohkan ritual kurban yang bukan manusia. Melainkan, binatang-binatang ternak.

Tetapi, menariknya dalam kisah pengorbanan nabi Ibrahim sendiri, ia diuji untuk mengorbankan anak semata wayangnya. Yaitu, Ismail

Sehingga, digambarkan nabi Ibrahim sempat ragu-ragu dan galau, saat menerima perintah itu. Lewat mimpi. Sampai tiga kali. Dalam perjalanan dari Mina menuju Arafah. Yang kemudian menjadi syariat berkurban itu.

Sampai akhirnya, nabi Ibrahim memperoleh keyakinannya. Saat wukuf di Arafah. Bahwa, semua itu adalah ujian baginya. Untuk berserah diri. Mengurbankan rasa cintanya kepada anak semata wayang yang digadang-gadang selama puluhan tahun hidupnya. 

Maka, dibawalah Ismail ke Jabal Qurban, di Mina. Untuk dikurbankan. Yang drama pengurbanan itu sudah sering kita dengar ceritanya. Sebagaimana difirmankan oleh Allah di Al Qur’an al Karim.

“Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya). Dan Kami berseru kepadanya: Hai Ibrahim (cukup). Sungguh kamu sudah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus (ganti) anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” [QS. As Saaffaat: 103-107]

Yang lantas menjadi kontroversi adalah: siapakah anak yang dikorbankan itu? Ishaq ataukah Ismail?

Kita bisa merunutnya langsung kepada dua kitab itu. Menurut Al Kitab, anak yang dikorbankan itu adalah anak tunggal Ibrahim. Yaitu, Ishaq. Tapi, di sini terjadi kontradiksi. 

Karena, anak pertama Ibrahim bukanlah Ishaq. Melainkan Ismail. Informasi itu disampaikan oleh Al Kitab sendiri. Bahwa, Ismail terlahir sebagai anak pertama saat Ibrahim berusia 86 tahun. Yang selama 14 tahun menjadi anak tunggalnya.

“Abraham berumur 86 tahun ketika Hagar melahirkan Ismael baginya.” [Kitab Kejadian Pasal 16: ayat 16]

Kemudian, di usianya yang hampir 100 tahun, Ibrahim baru memperoleh anak keduanya: Ishaq.

[17:17] "Lalu tertunduklah Abraham dan tertawa. Serta berkata dalam hatinya: Mungkinkah bagi seorang yang berumur 100 tahun dilahirkan seorang anak. Dan mungkinkah Sara, yang telah berumur 90 tahun itu melahirkan seorang anak? [17:18] Dan Abraham berkata kepada Allah: Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu. [17:19] Tetapi Allah berfirman: Tidak, melainkan isterimu Saralah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak.” [Kitab Kejadian Pasal 17: ayat 17 – 19]

Jadi, menurut Al Kitab sesungguhnya yang akan dikorbankan itu adalah Ismail, sebagai anak pertama Ibrahim. Yang disebut sebagai “Anak Tunggal” seperti disebutkan oleh Kitab Kejadian pasal 22: ayat 2. Waktu itu, memang Ismail menjadi anak tunggal Ibrahim selama 14 tahun. Sebelum lahirnya Ishaq.

Sedangkan di dalam Al Qur’an, petunjuk tentang siapa yang dikorbankan itu diinformasikan Allah dengan 2 cara. Yang pertama, selalu menyebut Ismail lebih dulu dibandingkan Ishaq. Untuk menggambarkan, bahwa anak pertama Ibrahim adalah Ismail.

"Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua(ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar doa.” [QS. Ibrahim: 39]

Yang kedua, Allah menggambarkan anak yang akan dikorbankan itu melalui julukannya. Yaitu, “ghulam halim” – anak yang sabar. Alias, Ismail. Bukan “ghulam alim” – anak yang berilmu, alias Ishaq.

Maka, itulah yang digambarkan dalam drama yang sangat mengharukan. Saat Ismail ditanya oleh Ibrahim, apa pendapatnya tentang perintah pengorbanan terhadap dirinya itu. 

Ismail menjawabnya: "Wahai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". [QS. As Saaffaat: 102]

Wallahu a’lam bissawab …

[Dimuat di Harian DisWay, Jum'at, 23 Juli 2021]

*Alumni Teknik Nuklir UGM. Penulis Buku-Buku Tasawuf Modern. Dan, Founder Kajian Islam Futuristik.

0 Comments