Memahami Hukum Karma dan Hubungan Antar Jiwa

lbh-iwo-soppeng.com Memahami Hukum Karma dan Hubungan Antar Jiwa

by. Rahmad Darmawan

Hubungan kita dengan siapa pun dan apa pun, adalah hasil dari karma kita. Intensitas hubungan, durasinya, dinamika dan kompleksitasnya, juga karena karma, karena hasil perbuatan kita di masa lalu.

Hal ini harus kita pahami saat kita masih muda, masih sehat, fisik kita masih prima. Jika badan sudah tua, sudah lemah, maka akan sangat sulit menumbuhkan pemahaman ini, jika anda tidak pernah melakukan upaya yang terus menerus untuk memahaminya saat anda masih muda dan sehat.. Maka anda pun kembali kecele'.. Satu masa kehidupan terlewat begitu saja... 

Hubungan anda dengan pasangan disebut-sebut memiliki jejak karma paling berat. Bahkan pada banyak kasus lebih berat intensitasnya dibanding hubungan karma dengan saudara sedarah atau orang tua sekali pun. Jenis hubungan ini paling membekas dari rekaman masa lalu banyak orang... Namun jika berjalan secara alami, maka intensitas karma dengan pasangan akan berkurang ketika sudah memiliki anak.. 

Maka orang yang sudah memiliki anak biasanya akan lebih terikat dengan anak dibanding dengan pasangan. Artinya, 'karma dengan pasangan' sudah mulai lemah. Tidak kuat lagi. 

MEMAHAMI HUKUM KARMA DAN HUBUNGAN ANTAR JIWA

Jika tahap 'karma dengan anak' ini terlewati dengan baik dan sehat, maka semestinya tahap karma ini akan sangat berkurang ketika anak dewasa dan sudah mandiri... 

Adalah sebuah kekeliruan dan kesia-siaan bagi anda ketika anda berharap bahwa anak anda akan terikat terus dengan anda dan berharap agar anak mau dengan senang hati merawat anda saat anda lemah... Berkebalikan dengan harapan anda sebagai orang tua, harapan semua anak adalah orang tua tidak akan merepotkan mereka saat mereka sudah mandiri dan berkeluarga... 

Kalau ingin lingkaran karma ini selesai dengan mudah, indah dan dengan seminimal mungkin penderitaan, maka fokuslah pada 'tugas' dan 'hutang karma' anda, dan BUKAN pada 'harapan' anda.. 

Hutang karma anda adalah merawat orang tua anda. Kemudian merawat keluarga, khususnya anak, sampai mereka mandiri. Tapi kemudian, jangan pernah berharap anak akan merawat anda di masa tua anda. Biarlah kehidupan yang menentukan bagaimana anda akan dirawat di masa tua, bagaimana anda melewati tahap akhir dalam hidup anda. Apakah dengan senyum kebahagiaan atau dengan ratapan penyesalan. Semua itu tentunya didasarkan pada karma anda juga... Apa yang anda tanam akan anda tuai.. Jadi tidak perlu berharap... 

Kalau kita mengembangkan pemahaman yang benar dalam hidup, tentunya kita sebisa mungkin tidak ingin bergantung dan merepotkan siapa pun di saat tua nanti. Kita ingin bisa mandiri dan bebas mengoptimalkan proses penyempurnaan olah pikir dan olahrasa agar kita siap menghadapi kematian dengan penuh ketenangaan dan keanggunan... 

Pada tahap inilah biasanya orang mulai 'ngeh', bahwa manusia itu lahir dan mati sendiri.. Semua hubungan dan peristiwa dalam hidup tidak lain adalah hasil karma kita sendiri dan tidak ada hubungannya dengan 'Diri Sejati', Yang Maha Tunggal dan 'Maha Sendiri'... 

Kalau tidak ngeh juga pada tahap ini ya sangat disayangkan sekali... Seperti firman Tuhan dalam Quran, "buta di dunia, buta di akherat.. " Bingung di sini, bingung juga di alam sana... 

Terpaksa cari rahim baru lagi untuk memperbaiki kesalahan.. Cari rahim baru pun dalam kebingungan.. Bagaimana tidak menyedihkan keadaan orang yang tidak pernah belajar tentang hukum karma ini dalam hidupnya? 

0 Comments