Bumi adalah Taman yang Indah



Bumi adalah Taman yang Indah

DARI KESADARAN BERBURU MENUJU KESADARAN MENANAM DAN MEMANEN 

Sekitar 1 juta sampai 500 ribuan tahun yang lalu, saat manusia baru berevolusi secara fisik dari 'kera' menjadi 'manusia', kita menjadi makhluk pemburu. Saat itu manusia belum menemukan pertanian. Hidup kita sangat tergantung dengan hewan yang kita buru. Bahkan selama ratusan ribu tahun manusia selalu hidup berpindah-pindah mengikuti hewan buruannya.


Saat pertanian dan domestifikasi hewan ditemukan sekitar 20 ribuan tahun yang lalu, manusia sudah berkurang ketergantungannya terhadap hewan buruannya. Diet manusia pun sudah mulai berubah dari yang dominant hewani menjadi dominant nabati. Dari pola hidup yang selalu menjadi objek belas kasihan alam, karena sumber pangan, yakni hewan, yang selalu berpindah-pindah tempat, menjadi pola hidup yang lebih 'restful'. Tidak lagi 'mengejar' dan 'berburu', tetapi 'menunggu' hasil panen.

Dari pola hidup 'menunggu panen' inilah mulai muncul 'restful awareness' dalam kesadaran manusia. Manusia mulai belajar 'bersabar'. Dalam kesabaran 'menunggu panen' inilah muncul doa, muncul pengharapan, muncul puisi, muncul senandung dan musik, muncul dongeng-dongeng tentang surga di mana hati para penghuninya dipenuhi rasa puas, muncul cinta, muncul kasih.


Inilah gerak evolusi kita. Dari 'berburu' ke 'menunggu hasil panen'. Dari pola pikir yang miskin yang sangat tergantung belas kasih alam, menuju pola pikir kaya raya di mana kita menjadi berdaya, di mana kita menjalani hidup penuh optimisme melihat apa yang kita tanam perlahan tapi pasti memasuki masa panen. 

Pola pikir 'berburu', 'memburu', apa pun yang kita buru, adalah pola pikir miskin warisan evolusi panjang kita saat kita belum kenal bercocok tanam, belum kenal bertani. Dan orang-orang serta tradisi yang masih mempertahankan pola pikir ini, menjadi 'orang-orang miskin', karena yang diburu  tidak pernah diam. 

Pernah lihat sapi yang hendak disembelih diam sama sekali tidak melakukan perlawanan? Saya tidak pernah melihatnya. Hewan atau binatang yang hendak kita buru atau bunuh untuk kita konsumsi dagingnya ini sejatinya mewakili dunia yang fana. Dunia yang terus berlari ketika kita mengejarnya. Kalau kita terlalu sering 'berburu' dalam hidup kita, maka jiwa kita menjadi miskin. Ngejar-ngejar sapi atau kambing untuk disembelih juga adalah 'berburu'. Begitu juga mengejar harta, pangkat jabatan, ketenaran, termasuk 'ngejar-ngejar orang' supaya suka dengan kita. 

Manusia mulai 'beramal saleh' ketika dia mulai menanam. Itulah makanya ketika dikaitkan dengan akherat, atau kehidupan yang akan datang, dunia ini diibaratkan sebagai 'majra'ah', sawah ladang, bukan tempat berburu. Dan hanya yang menanam saja yang akan memanen. Yang masih berburu, tidak akan memanen. 
Kondisi yang subur inilah kadang kita sebut sebagai Taman, tentunya Taman yang Indah. atau sering kita dengar dengan kata "Jannah"

0 Comments