Bedah Film: A Perfect Fit

A Perfect Fit

Bedah Film: A Perfect Fit

Di Netflix, film A Perfect Fit tengah tayang. 
Judulnya bahasa Inggris, tapi ini film Indonesia. Lokasi syutingnya di Pulau Bali. Kisahnya seru. Pemainnya keren-keren. 
Film ini berkisah mengenai seorang perempuan cantik bernama Saski (diperankan Nadya Arina) yang jatuh cinta pada pembuat sepatu bernama Rio (Refal Hady).
 
Tahu apa profesi Saski di film itu? Dia seorang fashion blogger. Hah? 
Saya sempat terkejut saat tahu dia seorang blogger. 
Ini profesi yang tidak ditemukan dalam film-film Indonesia romantis hingga 2000-an. 

Dulunya, profesi perempuan dalam film Indonesia selalu karyawan, sekretaris, atau SPG. Makanya, saya kaget juga mengetahui dalam film kita, ada perempuan yang bekerja sebagai blogger. Ini profesi kekinian.

A Perfect Fit

Tahun-tahun mendatang, saya menduga akan makin banyak profesi kekinian dalam film kita. Selain blogger, mungkin akan ada profesi digital marketer, data analyst, graphic designer, youtuber, kreator konten, selebgram, selebtwit, digital activist, dan berbagai profesi lain, yang terdengar aneh di telinga sebagian besar orang Indonesia.

Dunia blog memang berkembang pesat. Tahun 2000-an, saya ikut pesta blogger di Jakarta, yang didukung penuh oleh Kedubes Amerika Serikat. Bahkan Dubes Amerika ikut membuka acara. Saat itu, saya tidak menyangka komunitasnya kian tumbuh dan membesar.

A Perfect Fit

Dunianya para blogger adalah dunia yang lintas generasi. Mereka tidak hanya anak muda milenial, tapi banyak pula emak-emak, pekerja kantoran, hingga pekerja lepas. Dunia blog menjadi ruang yang mempertemukan mereka. Dunia kreatif mendekatkan mereka.

Tak hanya di Jakarta, bahkan di kota-kota kecil pun, para blogger bermunculan. Para blogger amat sering merangkap sebagai youtuber, selebgram, graphic designer, fesbuker, aktivis digital, juga menggerakkan komunitas. Mulai dari komunitas kuliner, komunitas jalan-jalan, hingga komunitas pengembang aplikasi di android. 

Belakangan ini, para blogger kian membentuk banyak komunitas. Ada travel blogger, beauty blogger, fashion blogger, kuliner blogger, tech blogger. Bahkan ada juga komunitas membaca, yang anggotanya mulai dari ABG sampai profesor doktor. Banyak yang sudah jadi blogger berbayar. Sekali review atau endorse, bisa meraup duit, yang jumlahnya sama atau lebih dari gaji pe en es. 

Mereka juga saling menyebar informasi, khususnya produk yang perlu di-endorse dan berbayar.

Jangan kaget, para buzzer yang selalu meramaikan pilpres itu adalah para blogger. Mereka saling tengkar di dunia maya, tapi selalu kumpul bareng di dunia nyata. Mereka berpedang di internet, tapi saat jumpa bisa saling olok-olok. 

Saya menikmati buah pertemanan dengan para blogger di banyak lokasi. Kami bertukar kabar, saling sapa saat berbagi tulisan, juga saling membantu. Saya ingat saat berjumpa para blogger di Lombok, seseorang bertanya: “Bang Yos masuk kategori blogger apa?” 

Saya spontan menjawab: “Saya masuk kategori blogger tampan.”


Editing : Mappasessu

0 Comments